Showing posts with label bertanya-tanya ___ sebuah spontanitas. Show all posts
Showing posts with label bertanya-tanya ___ sebuah spontanitas. Show all posts

March 18, 2008

Kolom ‘Kota Kita’ semakin menarik untuk dibaca

Kolom ‘Kota Kita’ semakin menarik untuk dibaca

Membaca Artikel yang dimuat di kolom KOTA KITA, khususnya dua edisi terakhir, saya tiba-tiba saja teringat, “ … oh help me please _ is there some one who can make me wake up from this dream … “ (spending my time, roxette), alunan lagu yang terdengar mendayu. Yang barangkali adalah ungkapan hati penciptanya yang sedang jatuh cinta dan merana.

Dalam suasana hati prihatin, buat saya itu lebih terdengar seperti dinyanyikan oleh negeri kita tercinta Indonesia, termasuk Batam Kota Kita di dalamnya. Yang merana tak berdaya, merindukan cinta kasih dan peduli dari seluruh komponen bangsanya. Untuk membangunan negeri tercinta ini, untuk membangun kota kita tercinta ini.

Saya jadi bertanya-tanya bukankah membangun tanpa perencanaan yang baik berarti sebaliknya? Dan sebagai arsitek terhadap diri sendiri juga bertanya-tanya;

- Bukankah, suatu produk desain seharusnyalah memuat criteria structural, funsional dan estetika?

- Bukankah, suatu lingkungan bentukan yang terbangun mengikuti arahan desain meliputi elemen civitas, aktivitas dan fasilitas?

- bukankah, berprosesnya suatu lingkungan bentukan, dalam dimensi waktu menuntut bekerjanya fungsi perencanaan, fungsi pelaksanaan dan fungsi control?

- bukankah, pelaku-pelaku yang terlibat di dalamnya masing-masing mempunyai standard kompetensi?

Bukankah memang harus demikian adanya supaya tersusun konsep pembangunan lingkungan bentukan tersebut yang holistis integralistis? Tetapi bagaimana mau membangun dan terkonsep dengan baik, kalau esensi bahwa pembangunan berawal dari fakta adanya kesalahan dan kekurangan sebagai tuntutan pemenuhan kebutuhan, tidak sungguh-sungguh kita akui dan sadari?

Bukankah memang di antara kita masih banyak yang belum mengedepankan kompetensi, berada tidak tepat atas waktu dan posisi, belum siap dengan transparansi dan sering merasa benar sendiri? Ya maaf, ini saya sampaikan karena bagaimana bisa berdiskusi mencari solusi, kalau ada yang mengkritisi malah emosi?

Nah terkait tema green architecture yang yang lagi hangat di kolom Kota Kita (walaupun sudah jadi issue global semenjak doeloe … sekali), menurut saya harus diaplikasikan sebagaimana supremasi hukum harus ditegakkan, bukan tigaperempatnya atau sepersepuluhnya. Pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan adalah untuk kepentingan semua, dan ini bagian dari kebutuhan yang sangat mendesak, tidak sadarkah kita bahwa sudah begitu banyak kerusakan alam, ketidakseimbangan ekosistem, pemanasan global, pencemaran dan bencana serta korban yang ditimbulkan?

Please deh, ini kan PR kita bersama untuk dicarikan solusi yang baik. Jadi mestinya saya tidak perlu bertanya-tanya lagi, akan terganggukah kondusifnya situasi, atau akan bergeserkah dari green architecture menjadi red architecture. Kerena menurut saya adalah konyol, membenturkan konsep pembangunan dengan efek yang ditimbulkan pada tataran aplikasi. Bukankah mestinya itu minimal sudah dilakukan pada tahapan feedback dalam perumusan konsep? Dan ini tidak sekedar green architecture tetapi juga konsep pembangunan secara keseluruhan, bila sungguh dipahami dan diaplikasi apa yang menjadi esensi, maka tidak akan ada kambing hitam green architecture dan tidak akan ada kedok yang namanya kondusif.

Taruh kata, sudah terkonsep dengan baik, dan teraplikasi dengan baik, itupun pada gilirannya masih akan terjadi distorsi dan pergeseran-pergeseran konstanta peubah-peubah suatu lingkungan bentukan. Artinya, bukankah ini menjelaskan bahwa untuk itulah diperlukan adanya evaluasi, revisi, diskusi atau apalah itu, untuk mencari mana yang salah dan kurang dan untuk menetapkan solusi (problem seeking & solving)? Kecuali kita adalah penggemar status quo, yang tentunya argumentasi adalah pembenaran dan bukan kebenaran. Makanya kondusif itu yang mestinya adalah kebenaran bisa jadi adalah pembenaran makanya disebut kedok.

Kita juga tahu begitu banyak program-program pembangunan yang baik, termasuk salah satunya adalah pemutihan IMB (bukan pemutihan SBPMB), akan tetapi kalau sungguh mau mendukung atau turut berpartisipasi, pada tataran teknis harus dilakukan dengan cara yang benar. Kiranya perlu dengan sungguh-sungguh dijalankan fungsi perencanaan, fungsi pelaksanaan dan fungsi control. Supaya terwujud kaidah keadilan/fair, transparansi, akuntable dan sebagainya sebagaimana standard pelayanan public yang memang telah ditetapkan. Karena bisa jadi kenaifan kita justru mblondrokke atau menjerumuskan pihak-pihak yang berkepentingan.

Seperti analisa sederhana dari seorang kawan, bahwa misalnya ada 100.000 unit rumah dan masing-masing melanggar KDB 10 meter persegi saja, maka sudah 1.000.000 meter persegi lahan terbuka yang beralih fungsi. Barang kali ini menjadi kontribusi yang cukup besar terhadap terjadinya banjir, misalnya. Belum lagi kalau ground cover yang berupa perkerasanpun turut dihitung. Maaf, menurut saya ini lebih esensial ketimbang alasan peningkatan PAD.

Itulah barangkali, mengapa para pendahulu kita membuat standard kompetensi, bahkan saat ini di kampus-kampus dan di sekolah-sekolah pun diterapkan kurikulum berbasis kompetensi. Artinya, jelas sekali efeknya, apa hasilnya kalo program-program pembangunan yang baik itu dilaksanakan oleh kita-kita yang tidak berkompeten.

Kota dengan segala permasalahnnya memang kompleks, dan mari kita urai satu persatu di kolom Kota Kita ini. Usul aja Batam Pos, bagaimana kalau digagas suatu saat ada semacam seminar atau forum diskusi terbuka yang melibatkan para pakar, praktisi dan pihak-pihak terkait, termasuk pakar hukum dan pers/media? Sepertinya akan terbuka formula-formula yang baik untuk perkembangan Kota Kita. Dan seperti dua penulis sebelumnya, bolehlah saya katakan selanjutnya biarlah mayarakat yang menilai.

Whalllah …, maaf kalau kebanyakan pertanyaan. Harapannya akan semakin banyak yang menulis di kolom Kota Kita, biar bertanya-tanyanya berganti tema.

Terima kasih Batam Pos yang sudah menyisakan sedikit ruang buat kita-kita yang doyan berekspresi, menjadi media untuk belajar bersama saling mengisi, mengkritisi dalam suasana demokrasi. Tetap saling menghargai dan bukan caci maki.

Minimal dari tulisan-tulisan itu dapatlah diketahui wacana Kota Kita kah atau emosi kah yang terekspresi. Sah-sah saja toh? Bagaimana jadinya ya kalau menulispun sambil emosi? Yang Pasti kolom Kota Kita menjadi semakin menarik untuk dibaca.

Apalagi sambil mendengar senandung, “ … oh help me please _ is there some one who can make me wake up from this dream _ spending my time _ watching the days goes by _ I’m feel’s so small I stared at the wall _ hoping that you are missing me to … “ Semoga kolom Kota Kita Batam Pos bisa menjadi inspirasi tema kita-kita untuk refleksi.

Ign. lagi BT (bertanya-tanya)

BANGKU KOSONG

Pelayanan satu atap, kapan menjadi satu pintu.

Membaca Artikel yang dimuat di kolom KOTA KITA, saya tiba-tiba saja teringat satu cerita tentang bangku kosong di dalam kelas di suatu sekolah. Konon katanya murid yang duduk di bangku itu mati karena nenggak racun serangga, mudah ditebak, berikutnya murid yang lain ndak satupun berani duduk di bangku itu. Keenganan atau kalau ndak mau dibilang ketakutan ini berlangsung hingga beberapa tahun berikutnya, bahkan pihak sekolah pun ndak juga memindahkan atau menggantinya, maka jadilah bangku yang angker.

Saya bertanya-tanya apa analogi ini kiranya bisa sedikit mengilustrasikan keenganan masyarakat mengurus perijinan. Lha bagaimana ndak, mari kita coba jalan-jalan ke meja-meja pejabat terkait perijinan. Yang pertama kita rasakan jauuuuh, ya iya laaah, jauh dari PPT. Berikutnya, kok banyak betul ya mejanya. Belum lagi sulitnya memahami makna bahasa yang digunakan, ya bahasa verbal ya bahasa tubuh. Yang ini sulit ditebak, orang lagi marah, lagi senang, lagi ada maunya atau apa, walaupun tidak jarang ada yang memang begitu mudah dipahami, terus terang apa maunya(halah).

Ndak percaya? Contoh ya, coba apa artinya ciak kopi, tolonglah dibantu, aman boss?, mau lebaran neeh, dan sebagainya. Sulit dipahami, bukan kemudahan, bukan kecepatan dan bukan pula kemurahan yang dijumpai, padahal iklim kondusif yang kita perlukan. Jadi kiranya mudah dipahami bangku di depan meja-meja itu menjadikan orang enggan untuk duduk. Jadi ya jangan terlalu cepat kita nilai negatif atas kengganan masyarakat mengurus perijinan, lha wong ini bentukan situasi, yang penting ada kesadaran bahwa ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Ada gagasan menarik yang bisa diambil dari cerita bangku kosong di atas, di mana suatu hari akhirnya bangku kosong di kelas itu diambil dan dibiarkan tanpa bangku. Usul aja neeh, bagaimana kalau bangku-bangku yang ada di depan meja-meja terkait dengan perijinan di singkirkan saja, dipindah di depan loket PPT. Artinya biar perijinan bisa dituntaskan di satu loket atau satu pintu/meja di PPT, semaksimal mungkin untuk menghindari tatap muka langsung dengan pejabat terkait. Toh perijinan semua di proses dari awal secara tertulis, ya mestinya bisa diselesaikan dengan fair secara tertulis. Jadi ruang konsultasi di PPT pun berfungsi sebagaimana mestinya.

Saya kembali bertanya-tanya, bagaimana ya seandainya tetap terjadi tatap muka langsung, walaupun sudah ndak ada bangku, kan masih bisa sambil berdiri. Tetapi sepertinya lebih menjajikan kalau ketemuan di luar kantor (halah), apalagi sambil ngopi gitu lho.

Harapan saya seh suatu hari PPT bukan hanya pelayanan satu atap tapi juga satu pintu, dan biarlah masyarakat ndak keluar masuk banyak pintu, ndak dari meja ke meja, ndak dari bangku (yang angker) ke bangku (yang semakin angker) lainnya, yang setiap kali beranjak dari bangkunya kantong dibautnya kosong.

Lho ini cerita tentang bangku kosong apa tentang kantong kosong, yo embuh, nggak saya pikirin lagi lha wong itu saja kayaknya ndak ada hubungannya, lagian saya kembali asyik bertanya-tanya.

Kenapa ya ndak disediakan saja ruang pers di PPT, yang bisa menjadi kontrol yang efektif? Ya paling ndak sediakan lah tempat nongkrong yang nyaman buat kawan-kawan wartawan. Sepertinya kalo bangku kosong diisi pers, ndak lagi menjadi bangku yang angker, tapi bisa-bisa wartawannya yang menjadi lebih angker … menakutkan ya? Ya iya laaaah, takut masuk koran gito loh (halah). Eee, jangan salah, bisa jadi yang lebih angker bukan wartawannya tapi bangku di belakang meja, ya tentunya kalo keseringan dibiarkan kosong, siapa yang ndak enggan, siapa berani?

Ign. lagi BT (bertanya-tanya).

October 23, 2007

click

adalah satu film yang layak untuk disimak.

adalah sebuah kritik analogis yang baik atas pola aktivitas keseharian yang kontemplativ. sebuah drama bersayap, drama komedi yang dikemas bagus dengan pesan moral yang begitu lugas. bahwa, 'menyesal kemudian tiada guna'.

kenyataannya banyak dari kita yang dalam kurun waktu tertentu bahkan sering sampai manula, sering dikontrol oleh sebuah remote control yang namanya nafsu, ambisi, uang, pekerjan, kilaf ..... whatever. pada gilirannya begitu kesadaran muncul, rasa-rasanya keadaan sudah begitu tidak terkendali.

mengapa ya perenungan baru dilakukan berikutnya? atau barangkali pola kontemplativ dengan kosekuensi logisnya sebuah kesadaran yang cukup dalam setiap aktivitas keseharian, hanya cocok untuk para manula, ... atau menunggu frustasi dulu?

eit, ... jangan salah, banyak kok yang sadar kalo yang dilakukan itu tidak benar tapi tetap saja dilakukan, dan akhirnya jadi kebiasaan. itu namanya nekad! ibarat pepatah, 'jamane jaman edan yen ora ngedan ora komanan'. bisa-bisa yang tidak ngedan malah disebut edan.

ign igun kembali bertanya-tanya

October 22, 2007

IKATAN MATERIAL

Materialistis! Satu kata yang berkonotasi negatif pada saat diterapkan untuk menilai, atau lebih sering untuk menghakimi seseorang. Tapi siapa sih yang tidak butuh materi, dalam kuantitas dan kualitas tertentu, walaupun sering diambisikan berlebihan dari pada kebutuhan.
Lantas mengapa materi begitu dikambinghitamkan, dan seolah religi jadi pahlawan?
Berbeda sekali bila disebutkan, religius!
Nah, kalau harus memilih yang mana pilihan kita?
...... Barangkali 'ikatan' materinya yang harus dilepas, dan
biarlah tetap menjadi pekerja keras tetapi tidak meninggalkan religi,
dan biarlah tetap menjadi religius tetapi tidak meninggalkan pekerjaan.
Mungkinkah .... ?

ing igun kembali bertanya-tanya

MENGALIR DAN BERPUTAR


pagi ini, hujan baru saja reda, jalanan masih basah. sembari menunggui anak sekolah, di kantin dekat sekolah dan secangkir kopi pahit ..........................

air laut melimpah, sampai-sampai sering dikatakan, 'percuma, seperti mengarami laut',
diterpa panas cahaya matahari, memanas dan menguap
naik dan menggumpal, jadilah awan di langit
yang berjalan, kemana saja angin meniup
saatnya tiba, turun lagi ke bumi sebagai hujan, ... menghidupi
dan pada gilirannya akan mengalir kembali ke lautan.
mengalir dan berputar, abadi ...
air laut melimpah ............................
bagaimana manusia ?

ign igun kembali bertanya-tanya.