November 08, 2011

makarya lantaran berkah

Tetembungan berkah ora dumunung ing pangucap, nanging ana ing sambung rasa karo Gusti. Sambunge rasa kang nuwuhake rasa ngrerepa mring kawelasan, ya tresna lan bekti. Yen patrape mengkono mesthi bakal pinaringan berkah.
Dene kabungahan kang awujud berkah ora mung dirasakake kanggo awake dhewe, nanging uga kanggo kabungahane wong akeh, luwih-luwih kang lagi nandhang papa lan cintraka, mula kalebu ewoning tumindak kang utama.
Bisaa nganti ngrasakake kanugrahan Gusti sing tanpa kendhat saben dinane, wujud apa wae, patrape rumangsa beja kemayangan dene kepareng ngrungu lan nyumerepi. Nderek mbengkas kasangsarane urip ing donya iki lan mbabar urip utama kang binerkahan ing Gusti.
Katresnan lan bekti marang Gusti iku mujudake pengandel kang wutuh. Ora cukup mung diwujudake ana ing obahe lambe utawa rasa prentuling ati, nanging luwih utama, iki sing wigati, yaiku kababar ing urip padinan kanthi watak, apa kang ditindakake in urip mung lantaran kanggo berkah, Gusti makarya. Ing telengin ati tansah rumangsa, dene Gusti kersa miji awake dhewe minangka lantaran lumebering berkah tumrap pepadha. Tumrap kang lagi nandhang papa, ateges gelem digunakake Gusti kanggo mbiyantu ngenthengake rekasane urip pepadha.
Mula kudu tansah eling yen namung sakdrema minangka lantaran sih Gusti. Supayane tansaya ngrembaka wujud pituduh bab gandrunge manungsa marang Gusti.

November 05, 2011

let construct ...


house of mr.Bob londo australi

masih seputaran avenue ....

di atas karang ... didebur ombak

BURUNG GARUDA BICARA




Suatu hari.

OB (Office Boy) : Biarlah lain kali saja kubersihkan, terlalu tinggi dipasang, terlalu jauh dari jangkauan tanganku. Aku kerjakan yang bisa aku kerjakan dulu, kalau dua foto di bawahnya ini masih bisa kujangkau dengan kemoceng ini. Aku harus cari cara untuk bisa naik ke atas sana, supaya lain kali bisa kubersihkan. Kotor sekali kondisinya, sekedar dilihatpun tidak nyaman di mata. Kalau bukan aku siapa lagi yang akan melakukannya.

Beberapa bulan kemudian. Ketika si OB sedang membersihkan ruangan dan kebetulan melintas di bawahnya, ada benda kecil berwarna hitam jatuh tepat di kepalanya. Seketika tangannya meraihnya di sela-sela rambutnya, dan begitu diamatinya ternyata kotoran cicak.

OB : Aaahhh, dari mana ini asalnya? Pasti dia sembunyi di balik burung garuda. Mungkin dia mengingatkanku bahwa aku pernah punya niat untuk membersihkannya. Oke, akan kulakukan, nunggu apa lagi kalau tidak sekarang.
Segera si OB beranjak ke gudang mengambil tangga, kemudian naik dan mulailah tangannya menari-nari memainkan kemoceng dan lap basah yang sedari tadi sudah tergantung di pundaknya.

OB : Hai burung, apa khabar?

BG (Burung Garuda) : ???

OB : Malang betul nasibmu, debu tebal begini yang hari-hari menyelimutimu. Kotoran cicak menempel hampir di seluruh tubuhmu sampai mengering dan lengket , bahkan laba-laba pun mulai bersarang.

BG : Siapa bilang nasibku malang? Cobalah kamu perhatikan baik-baik, penampilanku begitu gagah, aku tercipta dengan konsep yang sangat indah. Aku dipasang di posisi tertinggi, bahkan kedua pemimpin tertinggi Negara pun dipasang di bawahku.

OB : Apalagi yang bisa kukatakan, kondisimu memprihatinkan. Diselimuti kotoran dan tak lagi diperhatikan. Setelah kubersihkan aku yakin tak ada yang menyadari, bahkan mungkin kalau kulepas dari tempatmupun tidak ada yang memperhatikan.

BG : Jangan pesimis begitu boy. Toh aku masih diucapkan setiap upacara bendera, coba saja kamu datang ke sekolah-sekolah setiap hari Senin. Anak TK pun hapal. Apalagi aku tertera dan menjadi bagian tak terpisahkan dari UUD Negara ini. Dan keberadaanku searti dengan keberadaan Negara ini.

OB : Burung, aku tahu itu.

BG : Tahu saja tiada guna boy, kalau kamu tidak mengerti hakekatnya dan tidak mengamalkannya dalam keseharian.

OB : Itu dia yang kumaksud. Seremonial! Formalitas! Tidak satu lagi kata dan perbuatan. Semuanya sibuk sendiri-sendiri dengan urusannya masing-masing. Yang berkuasa, yang menjabat begitu juga, lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya.

BG : …..

OB : Kok diam saja, kamu tahu sendiri kan? Lambang tinggalah lambang. Pancasila? Makanan apa itu? Hanya manis di bibir. Sibuk ngurusin burungya sendiri!

BG : Sudah, sudah! Pelan-pelan boy, kalau menurutmu kondisinya sudah separah itu, mulailah dari dirimu sendiri. Begini boy, aku akan tetap seperti ini, disadari atau tidak aku akan tetap menjadi kebutuhan mendasar negaramu. Sejarah telah membuktikan aku ini sakti, dan di waktu-waktu yang akan datang juga akan terbukti lagi bahwa aku memang sakti. Bahkan kalau saatnya tiba aku akan mendunia seperti yang pernah dicita-citakan dulu.

OB : Burung, aku juga berharap begitu, tapi …

BG : Jangan tapi lagi, ini memang tidak mudah. Mulailah dari diri sendiri, mulailah belajar mengenal diriku kembali. Cobalah kenali setiap sila yang ada di dadaku, pahami hakekatnya satu per satu, dan cari tahu apa wujud nyata pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan lakukan jangan sekedar tahu, jangan lupa ajarkan ini pada anak-anakmu semenjak dini. Ajarkan apa itu toleransi, apa itu tepa selira, apa itu silaturahmi, biasakan berdiskusi, dan perkenalkan apa itu hak dan kewajiban. Kemudian beri contoh, bukankah menjadi teladan atau panutan adalah cara yang jitu bagi anak-anak. Cobalah tanamkan budaya gotong-royong dari keluarga.

OB : Ganti tema untuk lomba anak-anak, missal mewarnai Burung Garuda Pancasila, bukan mewarnai upin dan ipin …

BG : Hehe betul boy, banyak hal bisa dilakukan, teruslah berusaha ya!

OB : By the way, kamu lihat nggak tadi cicaknya lari ke mana?

BG : Waduh bahasamu boy, cobalah gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

OB : Iya, waktu itu aku ngobrol dengan anakku dan kugunakan logat kebarat-baratan, diprotes anakku. Katanya begini, “ Papi, gunakanlah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hargailah sumpah pemuda!” Tapi pertanyaanku belum kamu jawab, lihat cicak nggak?

BG : Itu, lari di belakang fotonya Pak Wapres.

OB : Waduh!!! Bahaya kalau semua-semua dipenuhi kotoran cicak. Burung, sudah dulu ya ngobrolnya, aku kejar cicak dulu.

BG: Sssssstttt ….! Boy, jangan ceritakan ke siapa-siapa ya apa yang tadi kusampaikan. Nanti dikiranya aku sok penting. Kalau aku masih diperlukan biarlah kalian semua dengan kesadaran masing-masing merawatku.

OB : …

Bersambung …

(Maksudnya, bagi siapa saja yang membaca silahkan saja kalau mau menyambung, berkomentar sebagai OB maupun sebagai BG)

November 03, 2011

PANCASILA, HANYA BICARA TIADA GUNA


Masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila adalah cita-cita bangsa dan Negara ini, sebagaimana kita semua sudah mengetahuinya, setidaknya yang pernah sekolah pernah mendengarnya. Cita-cita yang luhur dan menjadi idaman seluruh anak bangsa. Adil dan makmur menjadi intinya, dan berdasarkan Pancasila menjadikannya spesifik, terasa ‘Indonesia banget’.
Tetapi cita-cita luhur bangsa ini tidak akan pernah terwujud jika hanya di omongan, tanpa pengamalan tentunya hanya akan habis di cita-cita saja nantinya. Harus ada tindakan nyata, yang dilakukan segenap anak bangsa, menjadi gerakan masyarakat luas, yang dilandasi dengan kesadaran yang cukup.
Sebaiknya tidak ditunda lagi, mulailah sekarang juga, mulailah dari diri sendiri, bahkan dari hal yang terkecil sekalipun. Pilih hal yang paling mudah dan paling mungkin untuk dilaksanakan, untuk memastikan bahwa upaya pengamalan Pancasila ini benar-benar bisa segera dilaksanakan dan dibudayakan kembali.
Orang Jawa bilang : ‘muni thok tanpa guna’, bahasa ‘bule’nya NATO, no action talk only. Dalam hal ini ada satu hal kecil yang layak kita cermati, yaitu budaya gotong-royong. Satu aktifitas sederhana yang dapat dijadikan sarana awal dan mendasar untuk meretas jalan bagi kembalinya falsafah hidup bangsa ini, satu aktifitas sederhana yang sangat mungkin untuk kita laksanakan di lingkungan terkecil, di lingkungan RT dalam kegiatan bertetangga sehari-hari.
Lakukan kegiatan bergotong-royong ini, dan cermati, rasakan keindahannya. Bukankan ini wujud kecil yang nyata pemahaman hak dan kewajiban sebagai wujud kedilan sosial. Bukankah musyawarah bisa terjadi dalam suasana yang sangat cair, saling menghargai. Bukankah silaturahmi terjalin dengan baik, semua bersatu dalam suasana kekeluargaan. Bukankah tenggang rasa menjadi sangat terasa, semuanya sama, ringan sama dijinjing berat sama dipikul, dan baju-baju dikotomis ditanggalkan. Bukankan dalam gotong royong toleransi keberagamaan juga berkembang. Gotong royong ini bisa menjadi alternative wujud nyata membudayakan Pancasila.
Dalam kegiatan-kegiatan gotong-royong ini, alangkah prospektifnya bila melibatkan anak-anak muda. Biarlah mereka belajar secara alami falsafah hidup bangsa dan negara ini, sebagai cara hidup mereka sendiri dalam berbangsa dan bernegara. Di pundak mereka tanggung jawab atas nasib bangsa ini akan tiba gilirannya, dan dari generasi bangsa yang lebih baik kita layak untuk berharap.
Ayo kita hidupkan budaya gotong royong di lingkungan kita, jangan hanya bicara Pancasila.

February 20, 2011

INDONESIAKU (36)

Hari Merdeka

Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita

Indonesia Raya

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Garuda Pancasila

Garuda pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Ayo maju maju

Satu Nusa Satu Bangsa

Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa kita

Tanah air
Pasti jaya
Untuk Selama-lamanya

Indonesia pusaka
Indonesia tercinta
Nusa bangsa
Dan Bahasa
Kita bela bersama

Bagimu Negri

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

Dari Sabang Sampai Merauke

Dari sabang sampai merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia
Indonesia tanah airku
Aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku
Tanah airku Indonesia

February 10, 2011

SUKET TANGGANE LUWIH IJO

(resolution of concerns)

Nyilih tetembungan (bhs Ind.) ‘rumput tetangga lebih hijau’ kang biasane luwih kerep dipahami ngemu teges kang ala ketimbang teges kang apik, gandheng karo watake menungsa kang gampang iri lan sujono. Mengkono gambarane kahanan urip menungsa ing jaman saiki, desa mawa cara negara mawa tata ora dipaelu. Ngendi nggon ketemu rusaking jaman, rusak menungsane uga rusak lingkungane.

Ananging tetembungan suket tanggane luwih ijo kuwi mau uga ngeme teges kang apik, yen digagas apike, bisa dadi panggunggah konggone kita ngelingi kahanan rusak mau. Dadi panggugah kang bakal nyurung tumindak kita ing saben dinane, yaiku timindak kang migunani dudu tumindak kang tansah gawe keruhing kahanan.

Kahanan dijangka apik ora tiba saka langit, nanging kita kudu ikhtiar mbudidaya, amarga srana ikhtiar iku kita bakal nemu gegayuhane. Kahanan jaman rusak wis kudune bisa nyadarake kita, dene kita uga kudu melu urun rembug lan tenaga. Suket tanggane sing luwih ijo bisaa dadi panggugah lan panyurunge.

Ngelingi rusake jaman ngemu teges sing rusak menungsane lan uga lingkungane, mula loro-lorone kudu didandani, ora mung menungsane lan ora mung lingkungane. Yen didandani lingkungane thok, wancine tekan ya mung dirusak maneh, tegese ora bisa dinyang kudu loro-lorone kang didandani.

Gegayuhan ndandani kahanan kang rusak kuwi mau nyatane ora gampang, ora segampang omongan nanging ora ana pilihan liya kejaba kudu dandan. Mula supayane ikhtiar iki bisa ditindakake, apik nganggo cara sing ringkes lan sederhana. Diwiwiti saka lingkungan sing paling cilik, seka awake dhewe-dhewe lan linkungane dhewe-dhewe, embuh kuwi lingkungan omah utawa lingkungan penggawean.

Sing yakin, didhasari tekad sing kuat, dilakoni kanthi seneng kebak ing katresnan, njangka kahanan kang luwih apik. Tegese ya kudu gelem ndandani awake dhewe lan lingkungane, ditingkatake tumindake ojo mung kaya sing wis dilakoni.

Tegese kudu ditindakake, dijangkah. Suket tanggane luwih ijo dadi panggugah lan panyurung, srana gotong-royong nenandur, reresik lan ngirit. Langkah cilik iki bisa kanggo miwiti melu urun ndandani kahanan.

Nenandur, reresik lan ngirit bisa kanggo ndandani rusake lingkungan.

Gotong-royong bisa kanggo ndandani rusake menungsunane.

Nenandur, reresik lan ngirit yen dijlentrehake bisa wujud werna-werna tumindak kang bisa, malah gampang, dilakoni ing urip saben dina. Ora usah sing angel lan sing abot, dipilih sing paling mungkin dilakoni.

Tembung nenandur, ngemu teges nandur lan ngopeni tandurane. Nandur tanduran ing kiwo tengene omah, ing latar utama ing pot-pot. Ditanduri, dibedhuli alang-alange, didhangir lan dirabuk nganggo rabuk sing ramah lingkungan, diresiki yen ana hamane. Tegese ngenthengke langkah manfaatake nggon-nggon sela nambah tanduran. Tambah rong uwit wae sak omah yen sejuta omah wis rongjuta uwit anyar kang ditandur.

Ojo trima yen tanduran tanggane luwih ijo, tandurane dhewe ya kudu bisa ijo. Nduwe tanduran lan thukul subur, tegese diopeni, supanyane bisa ngurangi panas lan polusi. Pakulinan nenandur iki uga bisa dadi rabuk tuwuhe rasa sabar lan ketekunan, ngurangi watak mutungan lang gampang nglokro, penting kanggo ndhasari gegayuhan.

Tembung reresik ngemu teges nggulawentah resiking papan lan uwuhe utawa sampahe. Nggon kang resik kejaba endah disawang uga sehat, umpamane selokan yen resik ora dadi sarange penyakit lan ngurangi penyebab banjir . Dene uwuh uga dipilah miturut ramah lan orane karo lingkungan, dibuang ing panggonan sing bener, utawa bisa dolah dadi rabuk.

Ojo trima yen latare lan slokane tangga luwih resik, nggone dhewe uga kudu rajin diresiki. Nggon yen resik, penak disawang, endah, lan sehat, bebane pencemaran lingkungan ya mesthi kurang. Pakulinan reresik iki bisa uga dadi rabuk tuwuhe rasa katresnan marang kesehatan lan endahing kahanan.

Tembung ngirit, ngemu teges ngurangi boros, panganggo sak perlune cukup wae. Ngirit banyu bisa, ngirit listrik bisa, ngirit bensin bisa, ngirit plastik uga bisa. Sederhana wae, nutup kran banyu yen wis cukup, mateni lampu sing ora perlu, ngurangi ademe suhu AC, ora usah kesuwen manasi mesin kendaraan, ngurangi sampah plastik lan sak piturute. Akeh kang bisa ditindakake, supaya bebane lingkungan ora tansaya abot. Apik yen dadi pakulinan, ora kok sithik-sithik ganti peralatan elektronik lan ugal-ugalan ngonsumsi energi. Dinalar ringkes wae umpamane yen sak omah ngurangi 10 watt wae, sejuta omah wis ngirit 10 juta watt.

Ojo trima yen tanggane luwih ora boros, awake dhewe ya kudu bisa ngirit. Pakulinan urip ora boros iki bisa kanggo rabuk tuwuhe rasa gemi lan tepa slira, ngurangi srakah lan tega ngrugekake liyan.

Dene gotong-royong, uga ngemu teges werna-werna. Teges kekeluargaan, guyup rukun, tepa slira, weweh, toleransi, makaryo bebarengan, lan sak piturute. Srana gotong-royong bisa kanggo wadah melu urun, ana urun rembug, ana urun tenaga, ana urun duit, ana urun peralatan kerja, ana urun konsumsi, miturut kahanane dhewe-dhewe. Bisa kanggo ngasah rasa perduli. Nyatane gawean bisa luwih entheng, luwih cepet lan luwih gampang yen disengkuyung bebarengan.

Ojo trima yen tanggane luwih guyup rukun, awake dhewe ya kudu guyup rukun. Semono uga yen RT sebelah gotong-royonge apik, bisaa dadi panggugah kanggo nguripke gotong royong ing lingkungan RTne dhewe-dhewe. Kebiasaan gotong-royong iki bisa kanggo rabuk tuwuhe rasa perduli karo lingkungan lan sapadhane.

Mengkono uga srana kegiatan sederhana ing lingkungan sing paling cilik kuwi mau uga bisa ngejak utawa nglibatake anak, sanajan sithik ana kang ditularake. Anak-anak kita sing bakal marisi kahanan sing ditinggalake wong tuane. Mula sinau perduli lingkungan wiwit isih bocah iku penting.

Kabeh kuwi mau, coba di timbang-timbang, apa bisa dilakoni, apa gelem olehe nglakoni, apa migunani lan sak piturute. Di sumerebi yen kabeh kuwi uga dadi tanggung jawab kita, menungsa kang pinaringan cecawisan lingkungan kanggo kita manggon. Tegese kita uga wajib njaga.

Panjangkane, kawiwitan saka awake dhewe-dhewe, ing likungane dhewe-dhewe, kita bisa melu urun rembug lan urun tenaga sanajan mung sithik kanggo bebarengan nyengkuyung pembangunan. Ngenthengake bebane negara, ora mung ngabot-aboti ngaliyan, oja nganti kok urip ora uwur ora sembur.

Ayo padha gumregah, gumregah sak kabehe, ya gumregah lahir lan batine. Supaya adil makmur cita-citane bangsa lan negara ora mung entek ing cita-cita thok.

February 09, 2011

... HAYUNING PRIBADI

Mentes tumelung, 
ora ndongak mracihnani kothong tanpa isi,
ora sok ngendel-endelake samubarang kaluwiham,
ora mamerake kasugihan lan kapinteran,
ora ngongasake dhiri winates mung ing lathi.


Kebak welas asih,
sarwa duwe rumangsa dudu rumangsa sarwa duwe,
ora gawe kapitunane liyan,
ora wengis satindak laku polahe,
ora lali maelu laku dudu,
ora samubarang pakarti nista ditrajang wani.

February 08, 2011

LEDHEK MUNYUK


(Nuwuhake rasa rumangsa kang wus ditandur dening sesepuh ing murid-muride, gegayuhan tumuju jumbuhe rasa Gusti)
Sawijining dina, nalika obrol-obrolan ing ngisor wit blimbing ana pitakonan putra murid,  apa ta penggawean sing cocok konggone dheweke. Sebab nyatane akeh-akehe wong kuwi ora nyenengi penggaweane, tansaya akeh uga wong kang ora nduweni penggawean. Mengkono wong nyambutgawe kejaba kurang asile uga ora nyenengake, sebab wong kang nyenengi penggaweane lan nglakoni gaweane kanthi rasa tresna, ora wedi karo kesel, thukul eguh pertikele, lan tansah seneng sajroning penggaweane.
Sesepuh kuwi ora mung nresnani penggaweane, ananging uga nglakoni kabeh tinda-tanduk saban dinane kanthi rasa tresna. Ora rowa, ananging mligi tumuju kanggo srana Gusti makaryo, lan dilakoni kanthi seneng uga semangat.
Njur ngopo ledhek munyuk?
Jaman wis maju, malah rekadayane menungsa bisa nyiptaake munyuk (kewan), ananging majune jaman ora ndadekake manungsa kelangan watak/naluri kewane. Sing owah, soyo majune jaman watak lan nalurine sing tambah maju. Ing kene nyethaake yen naluri iku ana bareng karo lahire menungsa.
Digagas tata lahire, kabutuhan kewan lan menungsa ana padhane, kebutuhan dhasar kang ditembungke naluri/watak kewan. Kaping pisan yaiku kebutuhan mangan, mung bedane mentahan lan masakan. Kaping pindho kebutuhan seks. Kaping telu kebutuhan turu utawa ngaso lan kepenak utawa aman. Telu kebutuhan dhasar iki kang sipate naluriah, uga sering tembungke naluri kewan (hewani), telung perkara iki musate ana ing pikir.
Yen menungsa ing urip bebrayan saben dinane isih tumindak mung kanggo nyukupi kebutuhan dhasar utawa naluri hewani, tegese isih kaya kewan. Nyilih bahasa kedokteran, iki kang ditembungke pikirane isih diatur lymbic, yaiku bagian utek sing magepokan karo ngatur hormon lan emosi kebutuhan dhasar. Ananging yen menungsa wis bisa nimbang tumindake, ora mung waton,  tuwuh katresnan, menungsa pantes dijenengke menungsa. Katresan iki ngancik ing naluri kaping papat, dudu pikir utawa dudu nalar, ananging ngancik tataran rasa.
Menungsa urip ing tataran katresnan iki tegese wiwitane tumindak kamanungsan, rasa rumangsane menungsa (sanajan mungkin ora dirumangsani). Katresnan iki kang bisa milah naluri hewani menungsa. Katresnan iki mujude rasa rumangsa manungsa, ya rasa kamanungsan.
Naluri katresnan utawa naluri kaping papat iki kang dadi dhasar munggahe nyandak naluri kaping lima lan sak teruse, yaiku tataran rasa jati utawa rasa Gusti. Tataran kaping lima iki wiwitane menungsa nggayuh jumbuhe rasa Gusti.
Mengkono kasunyatane urip, kaya kewan, tinuntun lymbic menungsa polah kanggo nyukupi kebutahane kang sipate naluriah. Golek pangan, miturut apa perlune. Umpamane macan, mung golek mangsa rikala luwe, dipangan sakcukupe miturut kebutuhane, ananging kudu mangan. Semono uga manungsa dituntun naluri dhasar sing padha, mula ana kalane tega nyilakani sakpadhane. Menungsa ing tataran iki durung pantes dijenengke menungsa, nduweni raga menungsa anganging durung kamanungsan.
Dene ledhek munyuk iso ditemoni ing wilayah-wilayah se Indonesia, malah uga ing manca negara. Ngono munyuke dinggoni kathok jean biru, kaca mata ireng, topi laken, nyangklek tas, njur ngonthel sepeda cilik utawa nggeret grobag cilik. Penampilan digawe kaya menungsa, njur muter-muter sajak bagus dhewe (mungkin pikire wis kaya menungsa), ngimbangi suara kendhang lan keploke penonton.
Nanging naliko ana bocah nguntali kacang, munyuke njur lali perane kaya menungsa kuwi mau, lali penampilane njur cepet-cepet njupuki kacange lan disisil sambi mlaku gembelengan. Naluri asline ora njur berubah senajan wis disangdangi kaya menungsa.
Nggatekake polahe munyuk kuwi mau, bisa kanggo mawasdhiri/instrospeksi apa kita uga mung sandhangan menungsa nanging yen ketemu cecawisan sandhang pangan njur tumindake mung nduruti naluri kaya munyuk, rebutan ninggalake duga kira lan prayoga? Dominasi lymbic utawa pikir wis kudu di geser diganti dominasi rasa, menungsa wis kudune nduweni kesadaran rasa, supayane dudu naluri kewan kang dominan saben-saben kita ngayahi penggawean kanggo nyukupi kebutuhan.
Yen digatekake isih akeh wong kang nduweni kewajiban ing wilayah-wilayahe, uga kang nyekel panguasa, kang isih dikuasani lymbic. Kang kudune bisa dadi panutan, ananging ora rumangsa ketemu ora rumangsa, naluri kewan ketemu naluri kewan, gawene ngapusi, ya ngapusi awake/rasane dhewe lan ngapusi sakpadhane.
Kusasane lymbic utawa pikir iku kang ndadekake menungsa tansah kuatir, pikire terancam, uripe ora bisa anteng, nyebabake nyebar keruhe kahanan ing ngendi-endi. Yen bisa ucul saka kuasane pikir iki ndadekake menungsa bisa nyumerebi endi apik endi ala tumrap awake dhewe lan tumrap negarane.
Nyatane, gebyare alam donya nyebabake menungsa kelangan jati dhirine. Ruwet rentenge urip lan gawene menungsa tansaya ngadohake rasane menungsa. Mengkono nggayuh jumbuhing rasa bakal dadi perjuangan sak lawase urip.
Nguculi kuasane pikir iki nyatane ora segampang omongan. Amarga pikire menungsa mulur, miturut undhuhan urip sak durunge utawa undhuhan wohing pakarti, miturut kahanan ing urip sing saiki lan miturut thukule panjangkane. Kuasane pikir kuwi mau dadi bluwen kanggone urip menungsa, kang ditembungke menungsa kelangan kamerdikane.
Tembung nguculi kuasane pikir iku mau kang tegese ngalahake egone, supaya bisa nyandhak tataran rasa rumangsa, utawa nduweni kesadaran katresnan.  Rasa tresna menungsa bakal nuwuhake tataran kesadaran kaping lima yaiku tataran kesadaran bekti, kang dadi wiwitane njumbuhake rasa Gusti ing dhiri menungsa. Nyandhake tataran kesadaran tresna lan bekti, bakal nuntun naluri menungsa, nuntun anggone ngayahi kewajiban supayane ora mung kaya naluri kewan, nanging minangka laku tresna lan bekti.
Yen menungsa bisa nyandak gegayuhane nganti tataran kesadaran rasa tresna lan rasa bekti, bakal nyumerebi yen apa wae kan ditindakake ing urip saben dinane ora liya mung sakderma nglakoni. Tegese nyandak ing kesadaran kaping nem, kesadaran rasa Gusti makarya. Ing kene ego lan pamrih bribadi lebur dening rasa pasrah, menungsa masrahake urip lan penguripane marang Gusti. Rasa jatine nuntun tumindake, ketemu jati dhirine, tansaya jumbuh rasa Gustine. Tansaya jelas bedane kewan lan menungsa, menungsa lan Sesepuhe. Tansaya jelas dununge tumindak kang mung nduruti naluri utawa egone dhewe.
Kesadaran kaping nem iki bakal mujudake kepasrahan kang mligi rasa rumangsa kang dirumangsani, jumbuhe rasa Gusti ing rasane menungsa, nyandak ing tataran kesadaran kaping pitu, ya kesadaran rasa manunggal. Manunggaling kawula Gusti. Tataran kang mung ana rasa endah.
Dibutuhake tekad sing kuat, wani lan gelem ndandani uripe, wani lan gelem berubah ora mung kaya sing wis dilakoni. Babat alang-alang kang thukul ngrenbaka bareng karo kuasane naluri hewani ing uripe menungsa, supayane kang tuwuh tanduran rasa rumangsa kang wis ditandur dening Sesepuhe.
Instrospeksi, apa wis pantes dijenengke MENUNGSA, apa isih kaya LEDHEK MUNYUK.

December 18, 2010

INDONESIAKU (35)

Nonton Bola,
Belakangan ini dunia bola kita begitu gegap gempita,
timnas kita merangkak menunjukkan prestasinya.
Begitu mempesona, menyihir kita-kita untuk
berbondong-bondong menyaksikanya,
senayan memerah dan bergemuruh,
begitu juga di rumah, di cafe-cafe,
di mana pun bahkan di manca negara.
Tidak perduli petani, tentara, artis,
bahkan presiden dan menterinya pun juga.
Aktivitas timnas dan prestasinya dan juga pesonanya,
sudah lama dirindukan.
Semua bergairah,.
atribut merah putih melengkapi hampir semua suporter,
bahkan mewabah di seantero nusantara
sampai permintaan melampaui persediaan.
Begitu besar pengaruhnya,
mengeliat seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa ini.
Sungguh merupakan penghiburan
di antara deraan bencana dan
hiruk-pikuk manuver elite politik bangsa ini.
Dan ketika aku nonton bola,
aku hanyalah satu di antara suporter,
bahkan walaupun aku seorang artis,
aku hanyalah seorang suporter.
Begitu pun seandainya aku seorang presiden
aku hanyalah satu di antara suporter.
Suporter tak henti mengelukan timnas
bukan mengelukan koordinator suporter
bukan mengelukan presidennya suporter
bukan juga mengelukan pengurus timnas.
Kini aku merindukan pemimpin yang bisa
membawa kita menjadi suporter bagi Bangsa dan Negara ini,
Menjadikan bangsa yang bangga dengan negaranya sendiri,
membangkitkan semangat nasionalismenya. 
Dan Menjadikan negara dan bangsa ini
sebagai bangsa yang punya harga diri dan sarat prestasi.
Kini aku merindukan pemimpin yang begitu dicintai,
yang sarat prestasi,
yang mampu menyatukan komponen bangsa ini,
untuk bersama mengelukan.
Dan aku berharap pemimpin yang nonton bola,
adalah betul menjadi suporter,
dan hanyalah salah satu dari suporter,
kalau toh jabatannya tinggi
adalah tanggung jawab untuk menJadikan dirinya
teladan bagi yang lain,
menjadi suporter yang baik,
dan bukan untuk pencitraan diri atau alibi.
Berharap suatu hari nanti NKRI sarat prestasi,
dan menjadi mempesona,
dan mampu menyihir bangsa ini untuk bangkit,
bangun dari tidur panjangnya.

Biarlah Pancasila falsafahmu
Suatu hari nanti akulah presidenmu

December 12, 2010

SESEREPAN (6)

Dalane wong urip.

Dalane wong urip, dudu dalane wong mati. Nyumerebi dalane wong urip raket supeket karo nyumerebi sangkan parane dumadi,  ya nyumerebi asal-usule urip, ya asal-usule wong urip. Tegese kudu ngerti apa sing ditembungke dalane wong urip lan kudu ngerti dununge sangkan parane dumadi.

Menungsa urip ing alam donya utawa lahir ing alam donya, ateges tata lahire urip merga anane sesepuh bapa biyung.

Menungsa kang tata lahire urip nduweni roh langgeng menungsa utawa rasa, kawit ana ing kandungan utawa batine urip, ateges manjalma, amarga tumetese wahyu urip wujud tumurune wahyu roh langgeng menungsa ana ing jabang bayi, kang sumbere sesepuh roh langgeng.

Menungsa kang tata lahire urip utawa badan wadage urip lan nduweni roh langgeng menungsa, iku kang ditembungke wong urip. Ing kene rasa langgeng menungsa, urip lan genep, yen jumbuh karo rasa sesepuh langgenge. Jumbuhe rasa langgeng iki amarga anane sesepuh bapa guru kang njumbuhake rasa langgeng iku mau.

Sesepuh langgeng, sesepuh bapa guru lan sesepuh bapa biyung kanggone menungsa teges sangkan lan parane dumadi, gumolong karo sangkan lan parane tresna lan bekti. Laku tresna lan bekti tumuju marang sesepuhe iku mau kang ditembungke ngerti sangkan parane dumadi.

Laku tresna lan bekti kasebut ing ndhuwur tegese dalane wong urip, dalan tumuju marang sesepuhe, ya sangkane lan parane dumadine menungsa.

Ditembungke dudu dalane wong mati amarga laku tresna lan bekti iku lakune wong urip, laku kang ora bisa ditindakake dening wong mati. Semono uga laku tresna lan bekti bisane tumuju marang sesepuhe kang urip, sing ditresnani lan dibekteni iku ya kudu urip.

Ringkese, sangkan parane dumadi iku dalane wong urip, wujud laku tresna lan bekti.

December 06, 2010

berubah ... lagi

Bubur Suro

Tanggal 1 Suro diperingati oleh masyarakat Jawa dengan cara yang khas. Seperti halnya dalam tradisi dan budaya yang lain, setiap ritual pelintasan (rites of passage) selalu diiringi dengan elemen kuliner sebagai lambang.

Masyarakat Jawa menghadirkan bubur suran atau bubur suro pada malam menjelang datangnya 1 Suro. Dalam konsep Jawa, setelah lewat pukul empat petang dianggap sudah memasuki hari baru esok. Harus diingat bahwa bubur suro bukanlah sesajen yang bersifat animistik. Bubur suro syarat dengan lambang, dan karenanya harus dibaca, dilihat, dan ditafsirkan sebagai alat (uba rampe dalam bahasa Jawa) untuk memaknai 1 Suro atau Tahun Baru yang akan datang.

Bubur suro dibuat dari beras, santan, garam, jahe, dan sereh. Rasanya gurih dengan nuansa asin-pedas tipis. Di atas bubur ini ditaburi serpihan jeruk bali dan bulir-bulir buah delima, serta tujuh jenis kacang, yaitu: kacang tanah, kacang mede, kacang hijau, kedelai, kacang merah, kacang tholo, kacang bogor – sebagian digoreng, sebagian direbus. Diakhiri dengan beberapa iris ketimun dan beberapa lembar daun kemangi. Bayangkan, bauran elemen bahan dan bumbu yang menghadirkan berbagai tekstur. Klethik, klethuk, kriuk, krenyes … Hmm!

Lauk yang umum dipakai untuk mendampingi bubur suro adalah opor ayam yang mlekoh dan sambal goreng labu siam berkuah encer dan pedas. Campuran itu menjadikan bubur suro sangat bergizi.

Sebagai uba rampe, bubur suro tidak hadir sendiri. Ada lagi uba rampe lain berbentuk sirih lengkap, kembar mayang, dan sekeranjang buah-buahan. Hadirnya sirih lengkap melambangkan asal-usul dan penghormatan atau pengenangan kita kepada orang tua dan para leluhur – khususnya yang telah mendahului kita. Sirih lengkap – biasanya diletakkan dalam bokor kuningan atau tembaga – selalu hadir sebagai kelengkapan dalam ritual pelintasan Jawa dengan makna yang sama.

Kembar mayang yang hadir pada peringatan 1 Suro berbeda dengan kembar mayang yang kita lihat pada upacara pernikahan masyarakat Jawa.
Disebut kembar mayang karena memang terdiri atas dua vas bunga. Masing-masing vas berisi tujuh kuntum mawar merah, tujuh kuntum mawar putih, tujuh ronce (rangkaian) melati, dan tujuh lembar daun pandan.

Kenapa harus serba tujuh? Tujuh melambangkan jumlah hari dalam seminggu. Maknanya, dalam hidup setiap hari, kita harus selalu punya tekad dan keberanian untuk bertindak (dilambangkan dengan mawar merah). Tetapi, semua tindakan itu harus dilandasi dengan niat yang bersih dan benar, seperti dilambangkan oleh mawar putih. Dan akhirnya, semua tindakan itu harus mampu mengharumkan dunia umat manusia, seperti dilambangkan dengan rangkaian bunga melati dan daun pandan.

Sekeranjang buah-buahan juga diisi dengan tujuh jenis buah, dan masing-masing terdiri atas tujuh butir, misalnya: tujuh jeruk, tujuh salak, tujuh rambutan, dan lain-lain. Maknanya adalah agar semua pekerjaan dan tindakan menghasilkan buah yang manis dan  bermanfaat bagi sesama.

Bila kita melihat, “membaca”, dan memberi makna pada lambang-lambang yang dihadirkan oleh bubur suro dan uba rampe-nya itu, akan tampak kemiripannya dengan tradisi modern menyambut tahun baru yang ditandai dengan refleksi dan resolusi. Kita melakukan peninjauan kembali terhadap kinerja tahun sebelumnya, dan kemudian membuat resolusi untuk memperbaiki tata hidup dan pencapaian di tahun berikutnya.

Bubur suro dan uba rampe yang dihadirkan kemudian tampil sebagai alat atau check list untuk memudahkan proses refleksi dan resolusi yang kita lakukan. Sudahkah kita punya tekad yang kuat untuk bekerja? Sudah benar dan bersihkah landasan tekad kita? Apakah pekerjaan kita sudah mengharumkan lingkungan kita? Apakah semua itu telah menghasilkan buah yang nyata? Bila belum, ayo kita perbaiki untuk tahun berikutnya.

Bubur suro bukanlah sesajen! Lepas dari urusan keberagamaan, “membaca” bubur suro sebagai sebuah pusaka kuliner yang patut dilestarikan dalam konteks tradisi dan budaya

Kalender Jawa

Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya-budaya. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Bermula pada tahun 1625 Masehi, saat itu tahun 1035 H, angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.
Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa, nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar).
 1. Sura,                                               30 hari
 2. Sapar                                              29 hari  
 3. Mulud                                             30 hari          
 4. Bakda Mulud                                  29 hari  
5. Jumadilawal                                     30 hari   
 6. Jumadilakir                                      29 hari    
 7. Rejeb                                             30 hari              
 8. Ruwah                                             29 hari          
 9. Pasa                                                30 hari             
10. Sawal                                             29 hari                  
11. Dulkangidah                                   30 hari                       
12. Besar                                             29 hari              (total 354 hari)
Pada tahun 1855  Masehi, sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa, yang adalah pembagian bulan yang asli Jawa, disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya. Tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda.
1. Kasa                 23 Juni                  2 Agustus
2. Karo                 3 Agustus             25 Agustus
3. Katelu              26 Agustus            18 September
4. Kapat               19 September        13 Oktober
5. Kalima              14 Oktober            9 November
6. Kanem              10 November        22 Desember
7. Kapitu               23 Desember         3 Februari
8. Kawolu             4 Februari             1 Maret
9. Kasanga           2 Maret                26 Maret
10. Kasepuluh      27 Maret              19 April
11. Dhesta            20 April                12 Mei  
12. Sadha            13 Mei                  22 Juni

Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi semacam abad yang terdiri dari delapan satuan lebih kecil. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. Di bawah disajikan nama-nama windu:
  1. Alip (354 hari; 1 Suro=Selasa Pon)
  2. Ehe (355 hari; 1 Suro=Sabtu Pahing)
  3. Jimawal (354 hari; 1 Suro=Kamis Pahing)
  4. je (355 hari; 1 Suro=Senin Legi)
  5. Dal (354 hari; 1 Suro=Sabtu Legi)
  6. Be (354 hari; 1 Suro=Rabu Kliwon)
  7. Wawu (354 hari; 1 Suro=Ahad Wage)
  8. Jimakir (355 hari; 1 Suro=Kamis Pon)
Zaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai, pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari:
  1. Legi
  2. Paing
  3. Pon
  4. Wage
  5. Kliwon
Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini, memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi.

November 15, 2010

sirkulasi ... lagi

seaport

Butir-butir pengamalan Pancasila

Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 45 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Tidak pernah dipublikasikan kajian mengenai apakah butir-butir ini benar-benar diamalkan dalam keseharian warga Indonesia.
Sila pertama

Bintang.
1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
Sila kedua

Rantai.
1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
Sila ketiga

Pohon Beringin.
1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Sila keempat

Kepala Banteng
1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
Sila kelima

Padi Dan Kapas.
1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4. Menghormati hak orang lain.
5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
9. Suka bekerja keras.
10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

haywa lena kaki

“Mangreh landeping mimising cipta, cipta panggraitaning rahsa.
Haywa lena kaki, awit hamung pinda sak gebyaring thathit”


Agar memiliki ketajaman nalar (cipta), nalar harus bisa menangkap makna yang terbersit dalam rasa. Jangan sampai lengah, sebab proses untuk menangkap gerataran rasa hanya berlangsung secepat kilat.

October 17, 2010

SESEREPAN (5)

Aturane wong urip ...
Bukti yen wong urip nganggo aturan, nyatane dicawisi bluwen, ya kango nyemplungke wong kang nerak aturan. Aturene wong urip utawa pthokane ana telung perkara, siji bebuden luhur, loro surup ndadari, telu karma.
Pathokan angka siji, bebuden luhur.
Apik lan alane menungsa iku dudu ngelmu lan agamane, nanging bebudene, ya kudu dilampiri bebuden kang luhur. Bebuden luhur iku tegese deneng melayani ekpentingane liyan sing tumuju marang kautaman. Kosok balike bebuden nisto iku kang ditembungke waton entuk, embuh kono ora mangerteni. Bebuden luhur bisa uga ditembungke laku utama, kang kudu diudi lan dilakoni sak lawase urip.
Kautaman iki diudi ana ing awake dewe, dununge, ateges jagad cilik, kanggo melayani kepentingan liyan kang tumuju marang kautaman, ana ing urip saben dinane, ateges urip ing jagad gedhe.
Laku kanthi dasar bebuden kang luhur iki bisa dadi berkah, ya berkah pepadang, berkah tetampba lan berkah ngenthengake bebane liyan. Migunani tumrap awake dewe, liyan lan munggah marang negarane.
Panthokan angka loro, lakune menungsa secara lakune banyu.
Bisa uga ditembungke cakramanggilingan utawa surup ndadari, ya manjalma ya manukswa. Sipate banyu yen kene kurang kono mbludag, nanging mengkone bakal mili menyang segara, dadi mendung maneh lan yen wis tekan titi mangsane bakal mudhun maneh dadi udan kang sipate nguripi. Mengkono terus, muter saklawase, semono uga uripe menungsa.
Yen uripe menungsa ngono kuwi, ya manjalma ya manukswa, kamangka saklawase, banjur swarga nraka ngendi nggone. Swarga nraka iku nggone ana ing rasane menungsa, ora nang kanane, tapi nang kene nang rasane menungsa. Nang kanane iku tembung miring, yen nang kene iku gumathok. Kawito jaman mbiyen ngendi ana wong kang wis tau menyang swarga, durung ana, dadi cetho yen swarga nraka ana ing rasane menungsa.
Wong urip iku nduweni roh utawa rasa, yen mati tegese wis ucul rohe, uta wis ora bisa ngrasake. Dadi sing nduweni rasa pangrasa lan bisa ngrasake ya wong urip. Wong urip, teges manjalmo, iku kawiwitan mudhune wahyu urip, ya mudhune roh menungso, mudhun ing jabangbayi sakjerone kandutan. ....

SESEREPAN (4)

Kesanggupan ...
Bab kesanggupan, ngemu teges dasar tekad utawa niat sing kuat, penting kanggo ndasari gegayuhan laku utama srana jumbuhe rasa Gusti. Kesanggupan ngowahi awake dewe kang ditembungke dandan, lan kesanggupan ngakoni sangkan parane dumadi sak lawase urip. Yen durung bisa nanting awake dewe supayane saguh dandan, ya bakal kengelan lan kabotan olehe nglakoni, sebab urip iku ora segampang diomongke.
Saguh dandan. Ya kudu mangerteni karepe dandan, ngowahi sing ala lan sing luput tumuju marang kautaman, tembung panebusing dosa. Dandan iku mau ya kebutuhane dewe, mula kudu bisa dilakoni kanthi seneng. Nanging yen ora mangerteni apa lupute, apa kurange utawa apa dosane, ora bakal nduwe eguh dandan, wong ora ngrumangsani. Kanthi ngrumangsani iku mau, didasari tekad sing kuat, saguh ngowahi awake dewe, dandan nggayuh kautaman.
Saguh ngakoni sangkan parane dumadi. Semuno uga kudu mengertini endi sangkan parane dumadi, ya sesepuhe dewe, sesepuh lahir lan batin. Ngerti sangkan parane dumadi ditembungke ngerti dalane urip, dadi olehe ngakoni yo sak lawase urip. Ngakoni ing kene ngemu teges yakin utawa iman. Ing kene jelas yen kita kudu saguh kanthi dasar tekad sing kuat kanggo ngopeni dalan uripe dewe.
Bab kesanggupan iki ringkese, saguh ngowahi ya saguh dandan, saguh ngakoni ya ngimani sebab iman iku 'segala-galanya'

October 06, 2010

Across its many islands, Indonesia ...


Across its many islands, Indonesia consists of distinct ethnic, linguistic, and religious groups. The Javanese are the largest—and the politically dominant—ethnic group. Indonesia has developed a shared identity defined by a national language, ethnic diversity, religious pluralism within a majority Muslim population, and a history of colonialism including rebellion against it. Indonesia's national motto, "Bhinneka Tunggal Ika" ("Unity in Diversity" literally, "many, yet one"), articulates the diversity that shapes the country. Despite its large population and densely populated regions, Indonesia has vast areas of wilderness that support the world's second highest level of biodiversity. The country is richly endowed with natural resources, yet poverty remains widespread in contemporary Indonesia.

Indonesian provinces and their capitals – listed by region
Sumatra
Java
Lesser Sunda Islands
Kalimantan
Sulawesi
Maluku Islands
Western New Guinea