March 20, 2008

BEKERJA ON THE SPOT

BEKERJA ON THE SPOT

Peneliti bukan, konglomerat bukan, pinggiran (mohon maaf tukang ojek) juga bukan!, mereka berpendidikan strata, berpikir logis, berbicara bebas tanpa muatan kepentingan dan jauh dari politik. Omongannya spontan dari lubuk hati yang jernih, nyata adanya walau tersaji tanpa angka-angka. Mereka ngomong tanpa landasan teory ilmiah karena mereka sudah lupa. Bagi mereka sepertinya tak diambil pusing mau didengar syukur tak didengar juga tak apa-apa toh tak keluar modal. Mereka saya namai kelompok tanggung (KT) yang lagi ongkang-ongkang di suatu kedai kopi murahan.

Di sudut ruang dengan satu gelas kopi seharga dua ribu rupiah, saya mengangguk-angguk mendengarkan KT sedang membicarakan kondisi kota kita belakangan ini. Namun demikian saya tetap khidmat mengikutinya karena saya tidak pernah melihat siapa yang ngomong tetapi apa yang diomongkannya.

Suaranya terdengar datar setengah bercanda “Lihat dimana-mana jalan diperbaiki, dimana-mana saluran diperlancar dan di sudut-sudut kota dibuat taman!. Sebenarnya bagaimana ini, benah-benah dulu baru dapat adhipura atau dapat adhipura baru benah-benah? He he he” ketawanya terkekeh melihat kawannya melongo mendengar pertanyaannya. Saya menjadi ikut tersenyum, menurut saya tidak ada salahnya dapat adhipura dulu baru berbenah-benah, yang penting pembangunan tidak stagnan, toh momennya juga tepat untuk menyambut FTZ, lagi pula tak hanya investor saja tetapi siapapun akan senang kalau kemudian melihat kota ini terlihat bersih. Tetapi apakah begitu jawabnya?, ternyata bukan itu yang dimaksud si penanya.

“Benah-benah setelah dapat adhipura atau bekerja setelah ada masalah adalah hal biasa dan mudah kalau ada dananya. Melebarkan saluran setelah ada banjir, memperbaiki jalan setelah ada lobang, menambah kapasitas daya setelah listrik byar pet atau mengerjakan persoalan setelah ada di meja adalah contoh bekerja setelah ada masalah. Maaf, cara kerja yang cerdas barangkali tidaklah seperti itu, tetapi bekerja berdasarkan rencana atau program-program. Disinilah kemudian akan terlihat sejauh mana peran yang dimainkan perencanaan dari instansi-instansi terkait membuat program, iya enggak?” si penanya berbicara lagi. “Stop, jangan dilanjut, kamu ini aneh bertanya dijawab sendiri kemudian bertanya lagi, memangnya kamu tahu beliau yang disana tidak memikirkan seperti itu? Kalau cuma ngomong siapapun bisa!” potong rekannya mulai enggak suka dengan lagak kawannya yang mulai keminter.

Masih di sudut ruang, saya menjadi tahu bahwa KT ini punya cara sederhana memetakan persoalan fital kota (infrastruktur) termasuk bagaimana cara menilai suatu kerja sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh semua orang. Menurut saya memang benar bila bekerja berdasarkan program-program (prioritas dan jangka panjang), maka penyelesaian pekerjaan akan bisa tuntas (on end). Tetapi bila cara kerjanya sepotong-sepotong (on the spot) dan tidak berdasarkan pada angka prediksi atau bekerja diluar kerangka program, maka hanya akan menyelesaikan masalah di tempat saja (hit the mark). Masalah satu selesai di suatu tempat tetapi masalah baru akan muncul di tempat lain, masalah satu selesai hari ini tetapi masalah lain akan muncul dikemudian hari. Cara kerja seperti ini jelas akan selalu terlambat.

Kembalian tiga ribu rupiah sudah ditangan dan sebelum pergi saya sodorkan pada KT secarik kertas bertuliskan “Tidak cukup dengan hanya program-program saja tetapi dibutuhkan planning scheme untuk menyelesaikan persoalan infrastruktur kota”. Maksud saya ingin mengingatkan KT bahwa program-program hanya cukup untuk penyelesaian internal problem saja, sedangkan untuk bisa tuntas dan efisien masih perlu adanya analisa interkorelasi supaya penanganan infrastruktur kota yang ditangani banyak instansi bisa sejalan. Adanya bongkar pasang infrastruktur akibat pembangunan infrastruktur lain seperti jalan rusak akibat pebangunan gorong-gorong atau akibat galian pipa adalah contoh tidak adanya planning scheme. ***Arif, arsitek di Batam

No comments:

Post a Comment

bebas berkomentar, berkomentar bebas ....