March 18, 2008

GEDUNG WANITA

“… Saya ingin pemerintah menyediakan fasilitas gedung wanita sehingga dapat dimanfaatkan oleh wanita pada umumnya untuk meningkatkan ketrampilannya …”. Demikian permintaan seorang tokoh wanita Batam, beliau adalah Ibu Venny Suryo. Menurut saya adalah pandangan yang peka akan keadaan dan sangat visioner. (kolom wanita tanggal 11 mei 2007, pada media ini). Sebagai arsitek saya sangat respek dan tertarik untuk menguraikannya dari sisi kepentingan tata kota. Dimanakah visionernya ? Yok kita simak saja.

Hitam dan putih, positif dan negative, bersuku-suku dst adalah realita yang mewarnai kehidupan Kota Kita. Heterogenitasnya boleh dikata sudah menganga seperti jurang tanpa jembatan. Setiap komunitas seolah berlomba untuk menyeruak ke permukaan. Tak heran bila kemudian Kota Kita banyak predikatnya. Misalnya adalah terkenal sebagai kota modern tetapi juga terkenal sebagai kota ruli, terkenal agamisnya tetapi juga terkenal kehidupan malamnya dll.

Setiap komunitas asyik dengan urusannya masing-masing atau cenderung tidak saling peduli. Tatanan social demikian yang kemudian dirasa perlu ada jalan keluarnya. Permintaan kepada pemerintah untuk menyediakan gedung wanita (umum) adalah upaya pendekatan untuk merubah tatanan social menjadi lebih baik. Gedung wanita diharapkan dapat menjembatani berbagai warna social tanpa harus menanggalkan identitas masing-masing. Adanya hidup saling berdampingan akan menggerakkan dinamika kehidupan kearah yang lebih baik. Dari sisi upaya perbaikan social ini, keberadaan gedung wanita jelas dibutuhkan. Namun demikian apakah benar Kota Kita ini butuh gedung wanita?

Di kota-kota besar selalu ada apa yang namanya fasilitas olah raga, pendidikan, kesehatan, penjara dll yang kemudian kalau dibulatkan menjadi fasilitas umum (fasum) dan fasilitas social (fasos). Semua fasilitas ini ada karena memang dibutuhkan atau karena ada aktivitas yang memang perlu diwadahi. Bila ada aktifitas tetapi tidak ada wadahnya maka roda kehidupan menjadi tidak normal. Tak percaya? Cobalah bermain sepak bola pada malam hari di jalan raya, maka tidur tetangga dan lalu lintas umum akan terganggu.

Di Kota Kita, selain fasum dan fasos juga banyak dijumpai tempat-tempat pertemuan. Hanya saja tempat pertemuan tersebut kebanyakan masih menginduk pada gedung tertentu (sifatnya sebagai fasilitas gedung). Seperti misalnya aula di Asrama Haji dan function room di Hotel hotel. Gedung pertemuan yang sifatnya mandiri jumlahnya dalam hitungan jari, salah satunya adalah Gedung Beringin di Sekupang. Type sejenis Gedung Beringin dijumpai di banyak kota dan namanya memakai nama wanita. Misalnya di Semarang namanya Gedung Kartini, di Jogjakarta namanya Gedung Wanitatama dll.

Cukup mudah dipahami mengapa memakai nama wanita, karena citra feminimitas adalah persepsi yang ingin digugahnya. Disana seolah ada kelembutan, keindahan dan ada jalan keluar sehingga pas dengan filosofi tempat pertemuan. Namun jangan salah memahami gedung wanita, karena gedung ini tidak untuk kegiatan kewanitaan saja. Berbagai kegiatan seperti resepsi, seminar, pentas seni, pameran, pelatihan dan musyawarah besar juga ditampungnya. Karenanya kemudian diperlukan adanya manajemen professional untuk pengelolaannya.

Kedepan, dengan didengungkannya Batam sebagai Kota Meeting, Incentive, Convention & Exibition (MICE), maka keberadaan Gedung Wanita menjadi sangat strategis. Disinilah visionernya, sekali dayung dua pulau terlampaui.

Menempatkan gedung wanita dalam suasana alam yang asri, membuat bentuk dengan performance modern yang disentuh ornament etnik, menata landscaping dengan mengkombinasi hardscape bebatuan dan air, serta menambah vila-vila untuk meeting kecil, dapat menjadi tempat pertemuan alternative yang menarik. Dari sisi bisnis tentunya dapat diprospek disaat pertemuan dari gedung ke gedung mulai ada kejenuhan . Akhirnya, masihkah ada keraguan pihak Pemerintah Kota untuk mewujudkan keinginan diatas? Mudah-mudahan gayung bersambut, Arif, arsitek di Batam

No comments:

Post a Comment

bebas berkomentar, berkomentar bebas ....